GKM YANG MENGESANKAN

Oleh: Yuni Ariyanti

Pada hari minggu tepatnya tanggal 17 Februari 2018, hari yang paling mengesankan bagi saya selaku Pustakawan Komunitas Ngejah. Karena siang harinya tepat pukul 14.00 WIB akan diadakan kegiatan Gerakan Kampung Membaca atau yang sering disingkat dengan istilah GKM. GKM kali ini adalah GKM yang ke – 73 bertempat di Kampung Cigambi Desa Pancasura Kec. Singajaya Kab. Garut. Saya bersama teman-teman relawan lainnya dipimpin oleh Presiden Komunitas Ngejah berangkat dari saung sekitar pukul 13.30 WIB. Kami  sampai di sana sekitar pukul 14.15 WIB. Jarak tempuh perjalanan lumayan jauh dengan kondisi jalan yang agak rusak serta licin karena diguyur hujan.

            Setelah tiba di lokasi, kami disambut dengan penuh keceriaan oleh anak-anak. Ternyata mereka telah lama menantikan kedatangan kami. Mereka cukup antusias menyambut kedatangan para relawan Komunitas Nejah. Saya sendiri selaku pustakawan  merasa senang dan bahagia. Hal ini juga dirasakan oleh anak-anak di Kampung Cigambi. Walaupun hujan tak kunjung reda sejak pagi hingga sore hari, tetapi tak menghalangi niat kami untuk melaksanakan Gerakan Kampung Membaca. Walaupun jarak dari rumah ke sekolah (tempat pelaksanaan GKM) cukup jauh, tetapi anak-anak yang datang cukup banyak yaitu sekitar tiga puluh orang.

Acara GKM dibuka oleh Kak Budi. Sesudah pembukaan oleh Kak Budi dilanjutkan dengan permainan yang dipimpin langsung oleh saya sendiri dan Teh Ai Halimah. Sebelumya kami memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan anak-anak, sebagian ada  yang sudah kenal dan sebagian lagi ada yang baru berkenalan. Setelah memperkenalkan diri, saya bersama Teh Ai langsung bermain bersama anak-anak. Ternyata anak-anak pada pintar dan berani lhoo.. Saya senang sekali. Waktu permainan pun selesai. Dilanjutkan dengan mendongeng yang disampaikan oleh Syifa (dengan boneka tangannya yang bernama Sima). Anak-anak kelihatan antusias dan serius mendengarkan dogeng yang di sampaikan oleh Syifa. Acara mendongeng pun selesai, saatnya mereka untuk mengikuti acara membaca bersama. Namun, sebelum membaca bersama dimulai, anak-anak terlebih dahulu diberi arahan oleh Presiden Komunitas Ngejah, yaitu Pak Opik untuk membaca buku  sesuai dengan kemampuan dan kelas masing-masing,  mulai dari kelas 1 s.d kelas 6 SD bahkan ada juga yang masih duduk di Taman Kanak-kanak.

Dari sana barulah anak-anak mulai kegiatan membaca bersama dalam waktu setengah jam. Dalam waktu setengah  jam tersebut mereka mampu membaca dua bahkan ada yang nyampe tiga buku sekaligus. Kemudian waktupun menunjukkan pukul 15.30 WIB dan itu berarti waktu membaca telah selesai. Buku-buku kembali dikumpulkan lalu dibereskan kembali ke tempat semula. Setelah buku selesai dibereskan dan sudah terlihat rapi, anak-anak disuruh kembali ke tempat duduknya masing-masing. Acara selanjutnya, yaitu uji mental dan ingatan dengan cara menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca. Anak-anak begitu senang, saking senangnya pas diberi kesempatan mereka langsung maju ke depan untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Anak-anak yang berani maju ke depan mendapat tiga atau empat buku sesuai dengan isi buku yang diceritakannya.

            Waktupun telah menunjukkan pukul 17.15 WIB, saya bersama yang lainnya kemudian bersiap-siap untuk acara terakhir, yaitu sesi foto bersama dengan anak-anak beserta dewan guru yang ada. Setelah foto bersama berlangsung, kami berpamitan dan langsung pulang karena belum menunaikan Solat Ashar. Medan yang kami tempuh lumayan dahsyat ditambah dengan guyuran air hujan yang cukup deras. Di tengah perjalanan pulang menuju saung Komuitas Ngejah ada satu hal yang sangat lucu sekali, yaitu karena ada seorang Nenek yang menghentikan laju motor Presiden Komunitas Ngejah. Nenek itu berkata “Ujang liren namut pecin 500. Begitu ujar nenek yang berpakaian jas hujan berbahan plastik. Lalu Presiden Komunitas Ngejah menjawab: “Nek, teu icalan pecin abi mah, iyeu mah buku. Ujar Sang Presiden sambil memberikannya uang sebesar Lima Ribu Rupiah kepada nenek itu. Ternyata sang nenek mengira bahwa motor yang membawa bok itu di dalamnya terdapat  pecin. Kami semua tertawa sambil terus melihat kondisi nenek tersebut.

            Gerakan Kampung Membaca kali ini sangat menyenangkan dan terasa istimewa karena selain bisa bergembira bersama anak-anak dan menemukan hal-hal aneh dan lucu seperti cerita nenek tadi, GKM kali ini dihadiri oleh Kak Muhamad Ibrahim Daud atau sering disapa dengan panggilan Kak Ibda yang  sedang memenuhi tugas akhir kuliahnya. Ia juga ditemani oleh ayahnya. Ia sering ditemani ayahnya jika berkunjung ke Saung Komunitas Ngejah. Ayahnya adalah wartawan Koran Kabar Priangan. Kami mendapat banyak pengalaman dari beliau. Nah teman-teman, pokoknya GKM kali ini selain seru juga mengasikkan lho. Bagi teman-teman juga yang mau ikut bergabung menjadi relawan Gerakan Kampung Membaca, yuk berkunjung ke Saung KomunitasNgejah. Ini ceritaku, mana ceritamu? Lain kali ikutan GKM bersama kami ya!

Salam.

25 Februari 2018

***YuniAriyanti,

Pustakawan Komunitas Ngejah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *