Bagian dari Literasi Sains

Sebelum terbang meninggalkan Makasar, Sulawesi Selatan, saya bertemu dengan seorang kawan yang kemudian menghadiahkan buku yang berjudul Bercakap di Dunia Realis Aesop karya WIM POLI. Pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 18.00 WIB, sambil menunggu bis yang akan mengantarkan saya menuju Tasikmalaya, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Saung Komunitas Ngejah, Garut nyingcet, tempat saya tinggal– saya mengobati kebosanan dengan membaca buku yang saya terima tadi di Makasar. Pada penghujung pengantar buku, sebuah paragraf menghantam kesadaran saya: Manusia memang tak selalu manusiawi, kata Pierre Bourdie, kerusakan habitat manusia– ekonomi, sosial, budaya, politik, simbolik,– segera menggiring menusia ke kualitas ‘binatang liar’. Saya berhenti membaca. Saya merenungkan kalimat tersebut. Tiba-tiba saya teringat lagu Ebiet G Ade yang berjudul Berita Kepada Kawan. Ya, keserakahan manusia, kerap menjadi muasal rusaknya alam yang berkahir menjadi bencana. Ketika ingatan tertuju pada berbagai bencana yang pernah terjadi di negeri ini, saya terkenang pada sebuah adegan di Rumah Hijau Denasa, Goa, lokasi kegiatan Residensi Literasi Sains, yang diselenggarakan Kemdikbud pada tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2018.

Sore itu, di antara pepohonan nan rimbun, sebelum acara dimulai saya berkenalan dengan dua dari 20 peserta kegiatan Residensi Literasi Sains. Satu bernama Palupi dari Gemari Membaca Dompet Dhuafa Jakarta, dan yang satu lagi bernama Eda dari Serambi Pustaka Polres NTT. Saya dan dua gadis nan energik tesersebut, terlibat percakapan yang cukup hangat. Di tengah-tengah percakapan, kami dikejutkan dengan kalimat yang terlontar dari mulut seorang remaja kelas dua SMP anggota Kelas Komunitas Rumah Hijau Denassa, yang kemudian saya ketahui bernama Sani. “Jangan kau cabut rumput itu Kakak! Kasihan Kakak!” Semacam menegur. Muasal teguran Sani tersebut, tak lain karena ia melihat gerak tangan Eda yang mencabut rumputan di hadapannya. Perbuatan Eda tersebut saya yakini tanpa disertai kesadaran. Mengingat adegan itu, saya tersenyum sendiri. Senyum sebagai wujud rasa bahagia karena menyaksikan secara langsung adanya seorang remaja yang memiliki rasa mencintai terhadap tumbuhan, mencintai alam titipan Tuhan. Sikap tersebut tentu tidak ujug-ujug hadir dan menyatu dengan jiwanya, melainkan dipengaruhi oleh sebuah pola pendidikan dan lingkungan. Dalam hal ini, meski mungkin Sani tak paham konsep literasi sains? Namun secara sikap ia sudah mempraktikannya. Dan itulah kesejatian literasi sains. Sebagaimana tertulis dalam Buku Materi Pendukung Literasi Sains (2017) kehadiran sains yang membentuk perilaku dan karakter manusia untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakat, dan alam semesta inilah yang didefinisikan sebagai literasi sains.
Menurut keyakinan saya, kecintaan Sani terhadap alam sekitar salahsatu pemicunya karena setiap hari ia bergaul di sebuah komunitas yang bergerak pada bidang konservasi alam yang didirikan Darmawan Daeng Denassa dengan nama Rumah Hijau Denasa. Setiap hari Sani berinteraksi dengan teman-temannya di Kelas Komunitas Rumah Hijau Denasa dengan seabreg ajaran nilai yang ditanamkan Darmawan Denassa. Setiap hari Sani melihat Darmawan Denasa berinteraksi dengan tumbuhan dengan segenap cinta. Setiap hari Sani bermain di tengah-tengah hutan buatan yang memiliki luas 1,1 ha, sebuah area yang sengaja dibuat untuk memelihara ratusan tumbuhan dan puluhan hewan dengan cinta yang begitu dalam. Setiap hari Sani diajarkan mencintai alam agar tetap seimbang, salahsatu caranya dengan membuang sampah pada tempatnya, setelah dipilah antara sampah yang berasal dari tumbuhan, makanan, plastik, dan besi. Setiap hari Sani mendengarkan kisah tentang bagaimana tumbuhan bermetamorfosis menjadi makanan. Setiap hari Sani diajak untuk menghargai tumbuhan. Seperti cerita yang saya dengar langsung sore itu.
Saat para peserta Residensi Literasi Sains sudah siap menyantap makanan di atas misting yang dibagikan panitia. Tiba-tiba Denasa melontarkan sebuah pertanyaan sebagai awal bagi dirinya untuk bercerita “Apakah selama ini teman-teman pernah menghayati perjuangan padi hingga menjadi nasi? Teman-teman pasti tahu, bahwa ada perjalanan panjang bagimana padi bisa menjadi beras dan kemudian menjadi nasi sebagai makanan pokok manusia sebelum menjadi energi bagi tubuh manusia itu sendiri. Begini teman-teman, pada awalnya padi mesti direndam sehari semalam, ditiriskan hingga dua hari agar muncul wajah baru yang bernama kecambah. Selepas itu, ia mesti berdiri sepanjang waktu hingga dianggap dewasa. Panas dan dingin terus menyertainya setiap waktu. Betapa lelahnya ia, tapi ia terus berjuang supaya bisa hidup. Setelah menjadi padi, ia dipanen, dibabat dari tangkainya. Apakah ia tidak sakit? Saya rasa sebagaimana mahluk hidup, ia kesakitan. Tidak hanya berhenti di sana, ia kemudian dijemur di bawah sinar matahari yang menyengat. Kemudian ditumbuk dengan alu atau digiling dengan mesin. Ah, hal yang menyakitkan apabila kita langsung yang mengalaminya. Lalu ia menjadi beras, dilahap hingga saripatinya terserap. Kemudian berakhir menjadi kotoran manusia yang kerap lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Apalagi, mengucap syukur kepada pemberi hidup. Jadi jangan sia-siakan nasi yang sudah ada di hadapan teman-teman. Jangan sampai dibuang percuma. Begitu ujarnya dengan logat khas orang Makasar, sebelum mengakiri dongeng tentang padi dengan sebuah kalimat “Mari terus bersyukur dan selamat makan teman-teman”. Suasan hening. Semua peserta masih larut menghayati cerita yang disampaikan Darmawan Denassa, bahkan salah seorang peserta yakni Yanti dari Eveer Green Jambi, telihat berkaca-kaca.
Darmawan Denassa selain memberi keteladanan, rupanya sangat sadar akan pentingnya kisah atau dongeng dalam menanamkan rasa cinta terhadap alam bagi anak-anak. Sebagai bukti dari hasil yang ia lakukan adalah tumbuhnya sikap peduli terhadap lingkungan yang melekat pada jiwa Sani dan kawan-kawannya. Keberadaan Sani adalah harapan akan lahirnya generasi yang memiliki kecintaan untuk menjaga alam sekitar, namun pertanyaannya, ada berapa Sani yang ada di negeri ini? Ada berapa Sani yang mendapatkan kesempatan bergaul dengan lingkungan yang membentuk dirinya memiliki kecintaan terhadap alam semesta? Sementara itu Hasil data BPS menunjukkan bahwa Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada 2020 hingga 2030 dengan memiliki penduduk berusia produktif 15–60 tahun, sebanyak 70% dari jumlah penduduk keseluruhan. Pertanyaannya, bagaimana mungkin negeri ini akan bertahan dan mendapat kemajuan jika mayoritas penduduknya tidak memiliki rasa cinta terhadap alam? Bukankah kerusakan yang terjadi saat ini biangkerok utamanya adalah karena tidak adanya rasa cinta terhadap alam? Serentetan pertanyaan seperti bom meledak di dalam kepala. Pada titik ini saya mengela napas panjang.
Penulis: Nero Taopik Abdillah (Ketua FTBM Jawa Barat/Founder Komunitas Ngejah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *