Don't Laugh Sijima resmi terbit sebagai manga one-shot karya Kohei Horikoshi, mangaka di balik My Hero Academia. Karya ini menandai comeback Horikoshi ke Weekly Shonen Jump setelah seri superhero tersebut tamat pada 2024. Genre yang dipilih pun berbeda jauh, sebab kali ini Horikoshi terjun ke ranah horor. Banyak penggemar lama langsung penasaran begitu judul Don't Laugh Sijima diumumkan.
Asal Usul Manga Don't Laugh Sijima

Judul asli manga ini adalah Warawanaide yo Shijima-san. Versi internasionalnya dikenal sebagai Don't Laugh Sijima atau Quit Laughing Shijima. Chapter one-shot ini terbit di edisi gabungan 37/38 Weekly Shonen Jump pada 10 Agustus 2026. Karya ini juga tersedia di layanan MANGA Plus milik Shueisha sehingga pembaca internasional bisa mengaksesnya secara resmi.
Manga setebal 61 halaman ini disebut sebagai kisah horor bertema boy meets girl. Format one-shot dipilih Horikoshi untuk menguji gaya bercerita baru. Ia belum memastikan apakah cerita ini bakal lanjut ke proyek serial berikutnya. Pilihan format pendek justru membuat rasa penasaran pembaca semakin besar.
Sebelum Don't Laugh Sijima terbit, Horikoshi absen menulis manga baru sejak My Hero Academia berakhir. Jeda dua tahun ini membuat penggemar menunggu arah cerita berikutnya dari sang mangaka. Kemunculan Don't Laugh Sijima pun jadi kejutan tersendiri karena genre yang dipilih benar-benar baru baginya.
Sinopsis Manga Don't Laugh Sijima
Cerita berlatar di sebuah wilayah Jepang yang diam-diam dilanda aktivitas paranormal turun-temurun. Fenomena ini hanya bisa dilihat oleh Azuki, tokoh utama pria dalam cerita tersebut. Wilayah itu ternyata menjalankan ritual kuno yang mengharuskan adanya tumbal berupa orang terpilih setiap periode tertentu.
Situasi berubah ketika sosok yang baru saja terpilih sebagai tumbal adalah Shijima, gadis yang disukai Azuki. Azuki menolak pasrah pada nasib tersebut dan memutuskan melawan roh jahat yang menuntut pengorbanan itu. Keputusan inilah yang membuka jalan cerita menuju konflik utama manga Don't Laugh Sijima.
Warga di wilayah tersebut justru terlihat menerima ritual itu sebagai tradisi yang wajar. Sikap warga ini membuat Azuki semakin terdesak karena harus bergerak sendirian tanpa dukungan orang sekitar. Ketegangan antara tradisi turun-temurun dan keinginan menyelamatkan Shijima menjadi inti konflik sepanjang cerita.
Kemiripan Don't Laugh Sijima dengan Jujutsu Kaisen
Fondasi cerita Don't Laugh Sijima banyak disamakan pembaca dengan Jujutsu Kaisen karya Gege Akutami. Alasannya, kedua manga sama-sama membangun dunia di sekitar sosok yang mampu melihat roh jahat. Orang biasa di sekitarnya justru tidak menyadari keberadaan roh tersebut. Roh-roh ini digambarkan lahir dari amarah dan dendam manusia yang sudah ada sejak lama di wilayah tertentu Jepang.
Azuki dalam cerita ini berperan mirip penyihir di Jujutsu Kaisen karena harus memanfaatkan kepekaannya sendiri untuk membasmi roh. Ia bahkan bisa melihat penderitaan korban tumbal yang terus meratap agar ritual dihentikan. Kesamaan tema inilah yang membuat banyak pembaca menyebut Don't Laugh Sijima punya nuansa mirip Jujutsu Kaisen. Format cerita pendek tidak menghalangi kedalaman dunia yang dibangun Horikoshi.
Perbedaan mencolok tetap ada di sisi kekuatan tokoh utama masing-masing cerita. Penyihir di Jujutsu Kaisen memiliki teknik terkutuk dan energi khusus untuk melawan musuh. Azuki di Don't Laugh Sijima justru bergerak tanpa kekuatan supranatural apa pun selain tekadnya sendiri.
Sentuhan Gaya My Hero Academia di Don't Laugh Sijima
Meski mengusung horor, gaya visual Horikoshi masih terasa kental lewat desain karakter utamanya. Di akhir cerita, Azuki tampil sebagai sosok vigilante yang bertindak tanpa izin resmi, mirip desain Deku versi lebih gelap. Kombinasi tampilan ini membuat pembaca lama My Hero Academia merasa familiar sekaligus penasaran. Garis wajah dan pose aksi Azuki masih terasa seperti sketsa khas Horikoshi.
Unsur supranatural dalam manga Don't Laugh Sijima juga sengaja dibuat lebih minim dibanding hubungan antar karakter. Horikoshi tampak fokus membangun kedekatan Azuki dan Shijima sebagai inti cerita dibanding adegan melawan roh jahat semata. Pendekatan ini berbeda dari gaya action penuh milik My Hero Academia sebelumnya. Perubahan gaya ini menunjukkan sisi lain kemampuan Horikoshi dalam meracik cerita.
Warna dasar horor tetap terjaga lewat tone gelap pada beberapa panel penting. Namun ekspresi karakter dan komposisi panel tetap mengikuti pakem shonen yang sudah dikenal pembaca sebelumnya. Percampuran dua gaya ini membuat Don't Laugh Sijima terasa akrab sekaligus baru pada saat bersamaan.
Perbandingan Tiga Karya Kohei Horikoshi dan Jujutsu Kaisen
| Aspek | Don't Laugh Sijima | My Hero Academia | Jujutsu Kaisen |
|---|---|---|---|
| Genre | Horor boy meets girl | Aksi superhero | Aksi supranatural |
| Mangaka | Kohei Horikoshi | Kohei Horikoshi | Gege Akutami |
| Format | One-shot 61 halaman | Serial 400+ chapter | Serial ratusan chapter |
| Tokoh utama | Azuki | Izuku Midoriya | Yuji Itadori |
| Tahun terbit | 2026 | 2014-2024 | 2018-2024 |
Tabel di atas menunjukkan posisi Don't Laugh Sijima sebagai karya transisi Horikoshi menuju genre baru. Perbedaan format menjadi pembeda utama, sebab one-shot menuntut cerita yang padat dalam waktu singkat.
Profil Kohei Horikoshi Sang Mangaka
Kohei Horikoshi lahir pada 20 November 1986 di Prefektur Aichi, Jepang. Ia dikenal luas lewat My Hero Academia yang tayang di Weekly Shonen Jump selama sepuluh tahun. Manga tersebut terjual lebih dari 100 juta kopi di seluruh dunia. Sebelum sukses besar itu, Horikoshi sempat merilis beberapa one-shot seperti Tenko dan Barrage.
Don't Laugh Sijima menjadi karya pertama Horikoshi di Weekly Shonen Jump sejak My Hero Academia tamat. Pilihan genre horor menunjukkan keberanian Horikoshi keluar dari zona nyaman cerita superhero. Banyak penggemar menilai langkah ini jadi indikasi awal arah proyek panjang Horikoshi berikutnya.
Horikoshi juga dikenal sebagai penggemar komik superhero Amerika, khususnya terbitan Marvel. Pengaruh ini terlihat jelas pada desain kostum dan pose aksi di My Hero Academia selama bertahun-tahun. Menariknya, jejak pengaruh itu masih samar terasa lewat sosok vigilante Azuki di Don't Laugh Sijima.
Cara Membaca Manga Don't Laugh Sijima
Pembaca internasional dapat mengakses Don't Laugh Sijima secara resmi dan gratis melalui aplikasi maupun situs resmi yang ada. Chapter ini tersedia dalam bahasa Inggris sehingga mudah diikuti pembaca dari berbagai negara termasuk Indonesia. Versi Jepang tetap bisa ditemukan di Weekly Shonen Jump edisi cetak maupun digital.
Sejumlah platform penjual manga fisik di Jepang juga mulai memajang edisi cetak Weekly Shonen Jump yang memuat Don't Laugh Sijima. Kolektor yang ingin memiliki versi cetak bisa mencarinya lewat toko buku impor Jepang. Opsi digital tetap jadi pilihan paling praktis bagi pembaca di luar Jepang.
Bagi penggemar My Hero Academia, membaca Don't Laugh Sijima jadi cara tepat mengenal sisi lain gaya bercerita Horikoshi. Manga ini membuktikan bahwa Horikoshi mampu keluar dari pakem aksi dan tetap menghadirkan cerita yang kuat secara personal. Don't Laugh Sijima pun kini jadi salah satu one-shot horor yang ramai dibicarakan komunitas manga. Baca artikel Anime & Manga lainya hanya di Ruangbacaku